Namun, kau masih berusaha memetik setangkai
bintang dari langit malam yang luas membentang.
Kau begitu terpesona dengan kerlipnya. Ia serupa
mata lelaki yang kukenal dari balik mimpi, bisikmu.
Tak kusangka. Kau mampu dapatkan segenggam.
Setelah seharian menyusun tangga dari doa. Lalu
kau menyelipkannya ke ruas-ruas dada. Katamu,
“aku meyakini, dadaku tak suram bagai pikiranmu.”
2012