Cinta Seorang Gadis Cantik
Oleh Putu Gede Pradipta
Suatu hari, saat matahari berada pada
titik tertinggi, tepat di atas kepala. Pada saat itulah, aku merasa sangat
cemas pada keadaanku. Pada tubuhku yang mulai tak biasa. Ada sesuatu yang tak
biasa akhir-akhir ini. Aku tak begitu paham apa yang terjadi, tapi, mungkin
inilah keanehan yang baru kuketahui bahwa aku memilikinya. Keanehan ini berada
di dalam tubuhku. Sebentar lagi, aku menemuimu Tuhan.
* * *
Aku seorang perempuan yang beranjak
dewasa. Dengan tinggi 160 cm. Rambut hitam panjang, melewati pundak. Aku
terlihat cukup sempurna di mata lelaki. Setidaknya, itu kuketahui dari
bisik-bisik mereka tentangku. Kenapa aku tahu? Menguping? Tentu tidak. Sebagian
karena mereka terang-terangan mengatakannya di depanku. Menggodaku, tapi aku
cuek saja.
Banyak teman lelaki, sekelas atau dari
kelas lain, juga dari kakak tingkat yang mendekatiku. Aku sempat merasa begitu
tersanjung, kagum pada diriku sendiri. Aku merasa begitu populer di sekolah.
Jika hari Valentine tiba, bisa dipastikan akulah gadis yang paling banyak
menerima ucapan selamat di tanggal 14 Februari itu. Entah melalui pesan
singkat, sapaan langsung, kartu ucapan, mawar, coklat, boneka, kado, dan
lainnya. Sebagian dari pemberian para lelaki itu, aku tak berencana ingin memilikinya.
Tak jarang aku harus terbiasa dengan
hari Valentine yang selalu mengundang dan memunculkan niat para lelaki untuk
menyatakan cintanya padaku. Tapi kutolak semua. Tak ada lelaki yang kucintai. Mungkin
karena banyaknya jumlah mereka, aku jadi tak yakin dengan mereka. Setidaknya belum,
belum kujumpai lelaki yang sungguh-sungguh mencintaiku.
Kau masih penasaran, kenapa tak ada
lelaki yang kuterima cintanya? Karena aku masih ingin sendiri. Menikmati hari. Sendiri
itu menyenangkan. Aku bisa meluangkan waktu untuk belajar atau membaca banyak
hal. Aku ingin belajar banyak hal, ingin tahu mengenai hal-hal yang tak
kutetahui sebelumnya.
Terkadang sempat terlintas di pikiran, sebuah
keinginan untuk memiliki pendamping. Tetapi, aku lebih yakin tentang jodoh yang
tak akan lari ke mana pun. Lebih yakin lagi, bila sudah jodoh, pasti dia yang
entah siapa akan jadi pacarku suatu saat nanti.
Orang tuaku malah tak sependapat
tentang sikapku itu. Mereka selalu bertanya padaku, mengapa aku tak juga
memiliki pacar. Mereka sangat khawatir. Berkali-kali pertanyaan mereka kutepis
dengan pernyataan: aku masih mau
menyelesaikan studiku dulu. Enteng, bukan. Itulah aku yang tak ingin
direpotkan mengenai lelaki.
Namun, jawabanku itu tidaklah cukup
untuk memuaskan rasa ingin tahu kedua orangtuaku. Setiap makan malam, mereka
selalu memberondongku dengan segudang pertanyaan juga bujukan. Dari makan malam
ke makan malam berikutnya. Dari hari ke hari. Hingga waktu berputar lagi, dari
pagi ke malam, dan pagi kembali, jadi serasa menggangggu. Selalu muncul lagi pertanyaan-pertanyaan
mereka di benakku.
“Mama takut, kamu tak menyukai lelaki,”
kata ibuku.
“Atau jangan-jangan...” kakakku
mendadak menimpali.
“Maksudnya?” tanya ibuku penasaran.
Kedua oarangtuaku sepertinya tak
sabaran melihatku menggandeng seorang lelaki. Mereka mulai aneh dan terlalu
jauh menafsirkan tentang diriku. Begitu juga kakaku itu. Apakah benar yang
dikatakan mereka itu? Kurasa tidak. Aku baik-baik saja.
* * *
Bermula dari ajakan sahabat satu kampusku.
Suatu hari dia menelponku, menanyakan keberadaanku.
“ Cin, kamu lagi dimana?” katanya.
Dia masih memanggilku seperti dulu, Cinta,
disingkat menjadi Cin. Panggilan akrab dari seorang sahabat.
“Sudah lulus ya?” dia keheranan. “Wah,
hebat. Kalau begitu kamu harus traktir aku ya?” desaknya.
Aku pun mengiyakan ajakannya. Aku pernah
berjanji padanya, dulu, ketika masih bersama-sama kuliah menempuh pendidikan S1.
Janji yang tak kusangka masih diingatnya sampai kini. Kami memang berteman
akrab. Satu kos. Saling curhat, kadang sampai pagi dan tidur pun seranjang.
Maklum kami selalu mencari tempat kos yang murah meriah.
Akhirnya, malam itu kami bertemu.
Sebuah perayaan kecil bersama sahabat lama. Kami tertawa. Girang dan bahagia. Cekikikan,
terbahak, sesekali saling meledek seperti masa SMA dulu. Banyak hal yang kami
ulas dan ceritakan. Tentang dia yang sudah memiliki suami sebagaimana yang
diimpikannya dulu, yang tampan dan mapan. Juga telah menjadi ibu atas dua orang
bidadari kecilnya. Tentang diriku yang walaupun sudah bergelar Ph.D tapi masih saja
lajang hingga usia 30. Tentang segala hal. Juga tentang teman-teman lelaki yang
sering pdkt ketika SMA dulu. Kami
hanyut dalam obrolan tanpa ujung itu.
Sampai waktu di jam tanganku menunjukkan
dini hari. Tak terasa waktu cepat berlalu. Begitulah obrolan yang selalu mampu meringkas
waktu. Dan akhirnya, dia menawariku untuk menginap di rumahnya.
Aku mengiyakannya. Tak curiga atau
berprangka buruk padanya. Toh sejak kuliah kami memang selalu bersama.
“Yang penting tak mengganggu keluargamu,”
kataku, sambil tersenyum.
“Mumpung suamiku lagi tak ada,”
jawabnya, juga dengan senyuman.
* * *
Sekarang aku harus menggadaikan cintaku
di tempat ini. Aku harus bersabar menunggu setiap lelaki yang sudi mampir walau
hanya berbekal cinta kilat dan akan lenyap dalam sesaat. Dari malam ke malam
begitulah, aku menunggu lelaki demi lelaki yang sudi mampir.
Apa kau mau tahu pekerjaanku? Pekerjaan
menunggu lelaki. Itu yang kulakukan. Pekerjaan yang sangat tak sesuai dengan
keahlianku. Aku seorang sarjana bergelar doktor. Lulusan Universitas ternama
Eropa. Seorang yang berpendidikan tinggi. Tapi kini, berusaha merelakan,
menggadai tubuhku di tempat pelacuran ini.
Temanku, yang beberapa setahun lalu
mengajakku makan malam untuk merayakan kelulusanku lalu menawariku untuk
menginap, ternyata ia dan suaminya adalah sepasang mucikari. Aku ditipu
olehnya. Aku disekap dan diancam setelah sempat menginap di rumahnya. Semenjak
itu aku dipaksa melayani setiap lelaki yang datang ke rumahnya. Rumahnya tempat
pelacuran yang berkedok salon kecantikan.
Kini, walaupun temanku dan suaminya
sudah ditangkap ketika ada seorang polisi yang tak sengaja datang untuk
pelesiran. Tak sengaja pula dia memilihku untuk melayaninya malam itu. Dan tak
sengaja pula malam itu kami hanya bercerita panjang lebar hingga tak sengaja
kusampaikan siapa aku dan mengapa bisa aku berada di tempat ini.
Entah kebetulan, esoknya, tempat
pelacuran yang telah menyekapku sekian tahun itu diciduk polisi. Dipimpin
langsung oleh lelaki yang semalam minta ditemani olehku.
* * *
Ah, sekarang aku menyesal. Menyesal
dengan semua penolakan yang pernah kulakukan pada lelaki yang datang membawa
cintanya padaku. Menyesal karena aku terlalu fokus, sentimental berlebihan, dan
teramat mementingkan studiku, menggilai studi tepatnya. Menyesal karena aku pernah
merasa cantik. Merasa paling cantik dari perempuan kebanyakan. Menyesal pada
pernyataanku sendiri bahwa bila sudah jodoh, pasti dia yang entah siapa akan
jadi pacarku suatu saat nanti. Sehingga saat itu aku luput pada lelaki yang tak
pernah kusadari begitu mencintaiku dengan sepenuh hati.
Dialah polisi yang menyelamatkanku. Dia
juga temanku di SMA dulu. Usai membebaskanku dari tempat pelacuran itu, dia berniat
menikahiku. Tapi aku menolaknya. Aku telah kehilangan kesucianku. Juga tak akan
mampu memberi keturunan padanya, aku divonis mengidap kanker rahim stadium
akhir dan terjangkit HIV. Umurku tak lama lagi.
Suatu hari, saat matahari berada pada
titik tertinggi, tepat di atas kepala. Pada saat itulah aku merasa sangat cemas
pada keadaanku. Pada tubuhku yang mulai tak biasa. Ada sesuatu yang tak biasa
akhir-akhir ini. Aku tak begitu paham apa yang terjadi, tapi, mungkin inilah
keanehan yang baru kuketahui bahwa aku memilikinya. Keanehan ini berada di
dalam tubuhku. Sebentar lagi, aku menemuimu Tuhan. (*)
Biodata
Putu Gede Pradipta berkediaman di Denpasar.
Kini, sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas
Dwijendra Denpasar.

No comments:
Post a Comment
Ruang Apresiasi