Membedah Cerpen SMS karya Djenar Maesa Ayu




Membedah Cerpen SMS karya Djenar Maesa Ayu
Oleh Putu Gede Pradipta*

Sastra Indonesia terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Sejumlah karya berkualitas yang dihasilkan oleh para pengarangnya adalah penanda bahwa sastra Indonesia masih tetap eksis sampai saat ini. Hal ini tentu sangat menggembirakan, apalagi semenjak tahun 2000-an muncul berbagai pengarang perempuan yang mewarnai geliat sastra di tanah air.
            Kemunculan para pengarang perempuan ini sering disebut sebagai generasi sastra wangi. Selain para pengarang ini memiliki paras yang cantik, generasi ini memiliki kecenderungan mengangkat tema yang kian beragam, bebas dan berani. Dari segi isi, sastra wangi sangat berani dan secara terbuka bahkan vulgar berbicara tentang alat kelamin. Salah satu pengarang tersebut adalah Djenar Maesa Ayu.
Nama Djenar Maesa Ayu meroket semenjak buku kumpulan cerpen pertamanya yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! terbit. Buku yang telah mengalami cetak ulang berkali-kali tersebut menyajikan 11 cerpen. Cerpen-cerpen tersebut sangat kental dengan unsur seksualitas dengan para tokoh yang didominasi oleh para perempuan.
            Bila diamati sekilas, dari 11 cerpen yang tersaji, ada sebuah cerpen yang sangat unik dari segi bentuk (tipografi) penulisannya. Cerpen tersebut berjudul SMS. Djenar menampilkan cerpen ini sebagaimana bentuk sms (pesan singkat). Cerpen ini berisi kata-kata yang terbatas layaknya sebuah pesan sms, nomor handphone para tokohnya, dan waktu pengiriman sms tersebut.

Struktur Dalam dan Luar Cerpen SMS
            Ditinjau dari struktur dalamnya, cerpen SMS adalah sebuah cerpen yang bertema tentang seksualitas dengan bumbu perselingkuhan dan penyimpangan seks. Cerita sepintas dibangun dengan alur maju yang dapat kita ketahui dari pola urutan waktu yang terdapat pada teks cerpen berbentuk sms ini. Adapun tokoh dalam cerpen ini berjumlah 6 orang, di antaranya: Boim, Vira, Armand, Tyana, Jo, dan Robert. Tokoh-tokoh tersebut menjadikan cerpen ini memiliki sudut pandang orang ketiga serba tahu. Keenam tokoh tersebut ternyata saling kait-mengait oleh jalinan hubungan gelap alias perselingkuhan.
            Vira yang merupakan istri dari Jo, ternyata menjalin hubungan dengan Boim dan Armand. Tyana yang merupakan istri dari Armand pun menjalin hubungan dengan Boim dan Jo. Akhirnya, para tokoh dengan selingkuhannya masing-masing mengadakan pertemuan dan tanpa sengaja berada di areal sebuah tempat makan yang sama, Le Souffle. Meskipun niat mereka bertatap muka dengan selingkuhannya gagal, karena tokoh Vira mesti bertemu suaminya yang sedang santap siang bersama tamunya di dalam Le Souffle. Sebelum cerpen SMS berakhir, terungkap kalau Jo memiliki kelainan seks (biseks). Dia memiliki hubungan intim dengan sesama lelaki, yang tak lain tamu yang diajaknya santap siang, yaitu Robert.
Bila ditinjau dari struktur luarnya, cerpen SMS karya Djenar sarat akan nilai-nilai moralitas. Di mana kita diajarkan untuk berlaku hidup yang sesuai dengan norma yang berlaku. Berbagai bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh para tokoh dalam cerpen ini patut dijadikan refleksi. Tidak lain, agar kita tidak terjerumus dalam perilaku amoral sebagaimana yang terdedah dalam cerpen.
            Selain itu, terciptanya karya berjudul SMS ini juga tidak lepas dari pengaruh latar belakang penulisnya. Djenar yang lahir dan tumbuh di kota Jakarta. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Jakarta merupakan kota metropolis. Sebuah kota yang begitu dinamis. Tempat terjadinya perbauran berbagai kultur. Kota yang memiliki kepadatan penduduk tinggi sehingga rentan akan masalah sosial. Di sini, seks bukanlah barang baru ataupun hal yang tabu. Wacana seks yang diangkat oleh Djenar ke dalam cerpennya adalah gambaran dari lingkungan tempatnya berada. Melalui pemakaian media sms yang menyimpang, kebobrokan moral dalam kehidupan masyarakat coba diungkapkannya.

Perbedaan Cerpen Djenar dengan Cerpen Lainnya
            Cerpen-cerpen Djenar yang banyak mengangkat isu seksualitas menjadikannya memiliki kekhasan sendiri dibanding para pengarang lain. Keberadaannya sebagai pengarang perempuan tidak dapat dipandang sebelah mata. Kemampuannya dalam mengeksplorasi gaya kepenulisan membuatnya memiliki tempat tersendiri di hati pembaca. Karya-karyanya tidak kalah dibandingkan karya cerpenis lainnya, bahkan bila dibandingkan dengan cerpenis sekelas Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma yang menurut pegakuannya adalah sosok guru baginya.
            Budi Darma dikenal lebih banyak mengangkat sisi gelap manusia, namun masih pada tataran masalah umum kemanusiaan. Sedangkan, Seno Gumira Ajidarma lebih cenderung pada gaya penulisan fragmentaris yang memunculkan romantisme dalam cuplikan-cuplikan cerpennya. Kedua pengarang ini tidak sevulgar Djenar dalam menyajikan cerpen.

SMS sebagai Cerpen Kontemporer
           Bentuk (tipografi) penulisan cerpen SMS yang unik menggolongkan cerpen ini ke dalam cerpen kontemporer. Cerpen SMS tersusun dari kata-kata yang tidak menyebar (disperse) seperti cerpen pada umumnya. Akan tetapi, memakai tampilan pada pesan singkat, yaitu memanfaatkan kata-kata secara terbatas persis model kata-kata saat kita berkirim sms. Lalu, nomor telepon tokoh yang tertera mendukung pola sms yang diharapkan penulis. Nomor telepon yang tertera tersebut juga akan membantu kita merujuk pada tokoh-tokoh mana yang merupakan pasangan suami-istri. Penyajian alur cerpen ini juga menarik. Alur dibentuk dari waktu yang tertera dalam teks yang berbentuk pola sms. Meski sepintas terbentuk dari alur maju, tetapi bila ditelisik lebih dalam cerpen ini sesungguhnya anti alur. Ini tampak pada adanya tumpang tindih peristiwa yang dilakukan pada saat bersamaan oleh tokoh.
Ciri lain yang menggolongkan cerpen ini ke dalam cerpen kontemporer, yaitu adanya pemakaian bahasa asing (Inggris), jumlah tokoh yang lebih dari 1 (6 orang), dan tokoh-tokoh tersebut sekaligus menghadirkan banyak plot. Ciri kontemporer juga tampak pada para tokoh yang dihadirkan merupakan cerminan manusia yang hidup di dunia modern. Latar belakang suku atau identitas setiap tokoh pun tidak jelas. Mereka mengalami keterasingan dan boleh jadi ini sebagai pemicu berbagai hubungan gelap dan penyimpangan seksual itu terjadi. Namun, kisah yang saling berkaitan antartokoh tampak mustahil terjadi dalam kenyataan. Kemustahilan inilah yang disebut antilogika, sekaligus menjadi pelengkap ciri kontemporernya.

Makna Cerpen SMS
            Terlepas dari keunikan cerpen SMS, kita dapat memaknai cerpen ini sebagai upaya kritik sosial atas perilaku masyarakat modern. Masyarakat yang begitu bebasnya melakukan hubungan perselingkungan bahkan seks bebas. Lebih-lebih hubungan sesama jenis. Masyarakat modern yang tidak risih menyampingkan norma demi kenikmatan pribadi. Berbagai kebohongan dilakoni demi menjaga hubungan penyimpangan yang terjalin. Seolah, makin tinggi kualitas hidup masyarakat maka rentan akan perbuatan amoral.

*) Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Bahasa Daerah, Universitas Dwijendra Denpasar.


Catatan:
Esai ini mulanya adalah tugas dari dosen mata kuliah Sastra Kontemporer dan mengalami penyesuaian dimuat di Harian Rakyat Sumbar edisi Minggu, 29 Maret 2015.

No comments:

Post a Comment

Ruang Apresiasi