Narasi Babi
Suatu Negeri
Oh, negeri
yang mampu menghidupkan kayu dan batu. Memiliki bentang lautan susu. Negeri
yang hari ini telah banyak kehilangan. Kehilangan harga diri. Kehilangan mimpi.
Kehilangan semua yang pasti. Terkapar kini dalam ketakmenentuan. Alangkah
sengsara menuju mati serasa.
Saksikanlah!
Manusia yang disebut warga yang hidup di dalam negeri yang serupa marga satwa.
Tak lebih seperti gerombolan babi. Dimabuk candu ambisi. Penuh rasa tak peduli.
Di mana-mana mengeluarkan tahi. Tak malu akan diri. Mengotori negeri suci ini.
Dengan bibir
yang mekar dan terus melebar. Mereka berkoar. Mengeluarkan kalimat-kalimat
sangkal. Mengaku diri sebagai raja. Paling bisa daripada semua. Padahal cuma
seekor babi. Bermodal wajah manis. Mereka Berorasi.
Tentu saja
mereka letih. Seharian memprovokasi. Lalu pergi ke restoran cepat saji.
Menyantap sajian berkolesterol tinggi yang dianggapnya baik. Kebiasaan yang
akhirnya membuat perut buncit. Sedangkan otak berbalik menciut.
Babi-babi.
Generasi tak suka berbagi. Yang penting kenyang sendiri. Ada uang jilat
sendiri. Ada untung raup sendiri. Segala ada demi diri sendiri. Demikian babi
bernyali materi. Tak segan korupsi. Sampai tubuh klimis dan tercium amis.
Barangkali
kita dan babi serupa mereka, beda tipis. Kalian boleh sinis, sebab tanpa
tersadari, kalian juga babi manis. Bersembunyi di balik wajah manis, hati
dipenuhi anarkis.
Salam
demokrasi dari negeri babi!
(2014)
Catatan:
Puisi di atas pernah dimuat di koran Pos Bali Minggu, 1 Maret 2015 dan pernah pula masuk dalam 10 nominasi Kilau Pena Sriwijaya 2015.
No comments:
Post a Comment
Ruang Apresiasi