Orang Bali Kini

Orang Bali Kini

Orang-orang Bali. Orang-orang lupa. Orang-orang yang tanahnya telah sebagian digadaikan demi Jazz atau Avanza.

Orang-orang yang diam di Bali. Orang-orang yang mungkin sudah lupa bagaimana kabar lalulintas dalam dada. Polisi yang berjaga juga alpa pada nasib comberan di dalamnya. Sebab lampu merah tak bertanya SIM pada sampah. Dan membiarkannya lewat tanpa sebuah interogasi.

Orang-orang lupa. Orang-orang di Bali. Baginya comberan cuma bagi kaki lima. Bukan bagi yang pernah menjual tanah atau pura. Bukan bagi yang bisa mempersembahkan buah impor kepada para dewa.

Orang lupa. Orang-orang Bali yang sepasang tangannya telah kehilangan masa lalu. Memilih Vodka daripada dupa. Melepas lontar memegang kuetart. Tak menyadari minimarket tumbuh subur dalam lambungnya.  Sementara paru-paru menjadi sedingin Coca-cola.

Orang di Bali. Orang yang tumbuh dan besar di sini. Dengan sungai bensin yang mengalir dari mata anak-anak mereka yang menghapus musim layang-layang. Mata anak-anak yang esok nanti tak luput dari kutuk dewi padi.

Orang Bali. Orang yang diam di Bali. Orang-orang yang lupa. Orang yang tak menyadari telah menggali kuburnya sendiri. Di saat musim hujan tiba. Comberan membunuh mereka.

Salam Clean and Green dari tanah Bali!


(2014)



Catatan:
Puisi di atas pernah dimuat di Pos Bali Minggu, 1 Maret 2015. Juga dibacakan di kampus saat acara RRI PRO 2 Jalan-jalan.

No comments:

Post a Comment

Ruang Apresiasi