Hujan dan Kisah Murung Lainnya




Hujan dan Kisah Murung Lainnya
Oleh Putu Gede Pradipta


Seonggok Benci
Di hatinya ada seonggok benci. Benci yang entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja sudah mendiami hatinya dari hari ke hari. Benci yang telah menjadikannya begitu muram. Telah dipeliharanya benci itu tanpa disadari. Benci yang menyelimuti menjadikan wajahnya tak lagi berseri.

Suram Kelam
Hidupnya demikian suram. Sejak benci hadir di hatinya. Seolah ada mendung tebal yang memayungi hidupnya. Mendung yang makin berat dan menekan hidupnya. Mendung yang kelam. Makin kelam dari hari ke hari.

Hujan Desember
Ini Desember. Betapa inginnya Lani melihat hujan. Sudah lama rasanya hujan tak berkunjung. Hujan yang tercipta dari tubuh mendung yang luruh jadi titik-titik kecil yang berhamburan.

Irama Hujan
Lani menyukai hujan. Hujan memiliki keteraturan. Hujan tak sembarang jatuh begitu saja. Hujan dengan keteraturannya mencipta irama. Irama yang selalu membuat Lani termenung lebih lama.

Lelaki Lalu  
Bila sudah begitu, ingatan Lani akan tertuju pada lelaki itu. Lelaki yang tanpa disadarinya muncul begitu saja dalam pikirannya. Lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa begitu bahagia sebagai perempuan.

Masa Silam
Itu dulu. Tentu berbeda dengan yang dirasakannya kini. Masa silam yang manis sudah berlalu. Indahnya cuma sebatas kenangan. Tak lebih hanya dalam angan.

Lupa Lenyap
Lani ingin melupakan lelaki itu. Ia telah berusaha keras agar lelaki dalam pikirannya itu lenyap. Tak lagi berbekas. Tetapi, semakin ia mencoba melupakan lelaki itu, semakin kuat pula bayangan lelaki itu bertahan dalam pikirannya.

Nasehat Ibu
Seharusnya ia mendengar apa yang disampaikan ibunya dulu. Lani pun menyadari kebenaran kata-kata ibunya. Ibunya pernah berkata, kalau lelaki hanya menyukai manis di awal, sampai pada akhirnya manis akan terasa hambar, lalu disepahkan.

Batu Karang
Semua telah terjadi. Ini adalah takdirnya. Lani tidak ingin mengutuki diri lebih lama lagi. Ia harus bisa tegar. Seperti batu karang yang tabah dihempas gelombang. Hidupnya harus dilanjutkan, tak boleh berhenti sampai di sini.

Sebuah Pisau
Apa boleh buat. Pernah juga ia melakukan hal bodoh. Beruntung, sebuah pisau yang ia genggam dan telah berada tepat di pergelangan tangannya akhirnya urung ia gunakan. Lani melempar pisau yang telah digenggamnya itu. Pisau yang hendak dipakainya untuk menyayat nadinya, guna mengakhiri hidupnya.

Air Mata
Matanya mulai berair. Nafasnya mendadak berat. Lani tak kuat menahan perasaannya. Dadanya mendadak sesak. Lani menangis sejadi-jadinya. Bulir-bulir air mata terlihat dari kedua sudut matanya, mengalir menyusuri kedua pipi merahnya, mengabarkan duka yang teramat sangat. 

Tanpa Ibu
Ibunya sudah lama tiada. Entah kepada siapa hendak mengadu. Lani ingin sekali memeluk ibunya. Merasakan belai kasihnya. Dan itu sudah tak mungkin. Dan ia makin merasa piatu. Ingin sekali ia mengudar rahasia yang lama disimpan dalam kesendiriannya kepada ibu.

Detak Jantung
            Lamunannya buyar. Jantungnya mendadak berdetak tak teratur. Setelah pintu kamarnya diberondong ketukan kasar, beberapa lelaki berseragam cokelat tanpa bicara sepatah pun langsung membekapnya. Tak ada celah untuk berteriak. Lani hanya bisa merasakan ketakukan menyergap bersama jantungnya berdetak tambah cepat.

Bayang-bayang
            Perlakuan kasar yang didapatkannya seketika membuat Lani terbayang pada apa yang dialami kekasihnya. Kembali terdengar suara pisau yang mengoyak dada lelaki yang sangat disayanginya itu. Lelaki yang sampai kini abadi di hatinya. Lelaki yang membuatnya tak bisa mencintai lelaki lain.

Bukan Aku
            Dan kini, semua menyalahkan.
Lani hanya bisa membatin. Bukan aku yang membunuh lelaki yang kucintai itu. Meski ia meninggalkanku saat cinta begitu menguasaiku. Aku hanya memenuhi nafsu pisau yang dulu berkilah saat kuminta menyayat nadiku. Pisaulah yang tak bisa menguasai diri hingga membabi buta di depan dadanya. Mengertilah, bukan aku yang bersalah. Bukan aku!

Di Persidangan
Tapi, jantung dalam toples kaca yang dihadirkan dalam persidangan hari ini adalah bukti yang tak terbantah. Di luar, hujan mulai turun, suasana demikian murung.


Biodata
Putu Gede Pradipta berkediaman di Denpasar. Kini, menimba ilmu di Universitas Dwijendra Denpasar, mengambil konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagai salah satu peserta Workshop Cerpen Kompas 2015 yang akan diselenggarakan pada 22 Mei di Bentara Budaya Bali.


Catatan:
Cerpen di atas dimuat di koran Pos Bali Minggu, 24 Mei 2015.

No comments:

Post a Comment

Ruang Apresiasi