Mahasiswa merupakan sebutan bagi generasi muda yang menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Sebutan yang prestisius sekaligus miris. Prestisius karena sebagai mahasiswa, tugas utama kita sudah tentu adalah belajar. Maka, mahasiswa layak diganjar sebagai intelektual muda yang diharapkan mampu menjadi tulang punggung bangsa. Secara tidak langsung, mahasiswa adalah kader penerus tongkat estafet yang mengantarkan bangsa menuju masa depan idaman. Sedangkan hal mirisnya adalah orientasi belajar mahasiswa yang kurang mumpuni. Selama ini, mahasiswa seringkali hanya mengartikan pembelajaran sebatas kegiatan yang bersifat akademis. Semestinya, belajar yang dilakoni seorang mahasiswa tidak sebatas pembelajaran yang diperoleh di bangku kuliah. Belajar bagi seorang mahasiswa tidaklah sesempit di ruang kuliah saja. Jika hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh saat kegiatan perkuliahan tentu tidaklah cukup. Malah itu akan menumpulkan jiwa kreatif yang dimilikinya dan mahasiswa cenderung tampil sebagai sosok yang individualistik. Oleh karenanya, seorang mahasiswa perlu menanamkan kecakapan sosial pada dirinya.
Kecakapan sosial (social skill) adalah kemampuan untuk dapat bekerjasama dengan orang lain. Kecakapan ini meliputi kemampuan komunikasi dan kemampuan kerja sama, yang keduanya saling terkait satu sama lain. Dua kemampuan ini tidak sebatas hapalan teoritis, tetapi lebih menekankan sisi praktis, yaitu bagaimana kita mempraktekkannya. Berkomunikasi yang baik bukan saja membuat apa yang hendak kita sampaikan dipahami orang lain, tetapi harus pula memperhatikan tata krama. Kita harus mampu menjaga kesantunan dalam berbicara dan melihat objek serta konteks pembicaraan. Sedangkan, kerja sama bukan semata adalah aktivitas yang dilakukan bersama, tetapi ada tujuan yang hendak dicapai. Kelancarannya sebuah kerja sama yang dilakoni sangat dipengaruhi oleh faktor komunikasi. Tanpa komunikasi yang baik, maka kerja sama tidak akan berjalan optimal.
Di
kampus, sebenarnya telah tersedia sarana berupa organisasi kemahasiswaan.
Inilah wadah bagi penempaan dan pengembangan kecakapan sosial (social skill)
para mahasiswa. Sayangnya, masih banyak dijumpai para mahasiswa yang acuh tak
acuh atas keberadaan organisasi di kampusnya. Sehingga muncul stigma tentang
para mahasiswa yang alergi berorganisasi. Mereka menyepelekan keberadaan
organisasi dan memilih sibuk kuliah serta hanya fokus mengejar nilai tinggi.
Padahal, bila dicermati bahwa ketika lulus nanti kita akan dihadapkan pada
dunia kerja yang kompetitif yang membutuhkan penyesuaian diri ekstra. Di sanalah,
kecakapan sosial (social skill) yang
kita peroleh lewat aktivitas berorganisasi itu berperan penting. Jangan sampai,
kita terlambat menyadari di saat sudah memasuki dunia kerja atau pun masyarakat
nanti. Maka, sudah semestinya para mahasiswa membiasakan diri berorganisasi sejak
dini.
Catatan: Tulisan di atas pernah dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa Bali Post, Selasa, 18 Agustus 2015 dengan judul Menempa Kecakapan Sosial Mahasiswa dan ada beberapa bagian yang disesuaikan oleh redaktur.

No comments:
Post a Comment
Ruang Apresiasi