Wawancara untuk Tugas Majalah Sekolah

Jawaban:

1.           Pengalaman organisasi saya di Universitas Dwijendra berawal dari mengikuti Resimen Mahasiswa (Menwa) pada tahun 2012. Ketika itu, saya dipercaya sebagai Komandan Regu. Pada tahun berikutnya, saya terpilih menjadi Ketua BEM Universitas Dwijendra periode 2013-2014. Di saat yang bersamaan, saya ditunjuk sebagai Koordinator Bidang Akademi BEM FKIP. Pada tahun 2014, saya dilantik sebagai Wakil Komandan Menwa D-924 Jaya Jayanti Universitas Dwijendra. Selanjutnya, saya ditunjuk sebagai Koordinator Bidang Minat dan Bakat BEM Universitas Dwijendra periode 2014-2015 dan dipercaya sebagai Ketua HMPS Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Bahasa Daerah. Kini, saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Bem Universitas Dwijendra periode 2015-2016 dan Koordinator Bidang Minat dan Bakat BEM FKIP periode 2015-2016.

2.           Saya memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Dwijendra karena sepengetahuan saya ketika itu di Universitas Dwijendra terdapat Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, lokasi kampusnya juga relatif dekat dengan kediaman saya. Ditambah lagi, karena saya menyukai tulis-menulis. Jadi, saya awalnya kuliah untuk memperdalam kemampuan menulis. Tetapi, kini saya sangat menikmati menjadi calon guru bahasa Indonesia. Sebab, bisa mempelajari berbagai pengetahuan tentang kebahasaan dan berbagai keterampilan menulis, sekaligus bisa berbagi dengan anak didik sembari terus mengasah kemampuan menulis.

3.           Saya memilih sastra karena melalui sastra saya dapat bereksperimen dengan kata-kata dan menghadirkan makna, kapan pun dan di mana pun, tanpa perlu pergi ke laboratorium. Saya dapat menangkap inspirasi dari lingkungan sekitar, lalu mengolahnya dalam kata-kata. Eksperimen tersebut saya wujudkan dalam bentuk tulisan yang mengandung estetika, khususnya dalam hal ini puisi.

4.           Moto saya sebagai penulis adalah “Berawal dari kerinduan dan berakhir dengan rendah hati.”

5.           Banyak sastrawan yang saya kagumi, ini seiring dengan buku-buku yang saya baca, baik sastrawan Indonesia maupun dari mancanegara. Beberapa sastrawan Indonesia yang saya kagumi adalah Chairil Anwar dan WS Rendra. Bagi saya, mereka telah menjadi tonggak sejarah, dan nama mereka tak akan lekang sepanjang masa.

6.           Setiap penulis yang menerbitkan buku selalu mempunyai keinginan agar bukunya laku di pasaran dan bisa memberikan pemasukan bagi penulisnya, begitu pun saya. Namun, saya lebih berharap bahwa puisi-puisi di dalam buku YTYT dapat menjadi oase bagi para pembaca. Dan yang paling penting adalah buku itu hadir sebagai suatu gagasan yang dapat memberikan penghiburan di tengah hiruk-pikuk kehidupan ini, lebih-lebih bisa memperkaya khazanah perpuisisan Indonesia.

7.            Saya mempercayai bahwa karya dari seorang penulis tidak bisa jauh dari si penulis itu sendiri. Saya pun demikian. Puisi-puisi saya adalah bayangan saya sendiri. Saya mencurahkan hasil renungan, pandangan, dan gagasan saya ke dalam puisi. Jadi, puisi juga merupakan cerminan kehidupan dan curahan perasaan dari penulisnya.

8.            Mendefinisikan puisi adalah hal yang sulit bagi saya. Saya berpandangan bahwa puisi bukan sebagai sesuatu yang bisa dibatasi oleh pengertian. Pengertian-pengertian puisi bisa dicari di buku-buku teori sastra. Namun, secara sederhana puisi bagi saya adalah jalan untuk memerdekakan diri dari rutinitas kehidupan. Saya bahagia menulis puisi, oleh karena itulah saya terus menulis puisi sampai hari ini.

9.            Mula-mula, saya menulis puisi sekitar tahun 2007. Hingga akhirnya puisi saya bisa lolos Temu Sastrawan Indonesia IV Ternate tahun 2011 dan dibukukan dengan para sastrawan Indonesia lainnya dalam buku Tuah Tara No Ate. Sejak itulah, saya mulai rajin berkirim puisi ke berbagai media dan mengikuti beberapa lomba puisi. Hingga pada tahun 2015 terbitlah buku puisi yang berjudul Yang Terbakar Yang Tercinta yang merupakan buku puisi duet antara saya dan kawan penyair dari Riau. Sebelumnya, pada tahun 2012 saya sempat menerbitkan buku puisi tunggal berjudul Telaga. Puisi saya juga dibukukan dalam beberapa antologi bersama, di antaranya: Munajat Sesayat Doa (2011), Bersepeda ke Bulan (2014), Bendera Putih untuk Tuhan (2014), Pelabuhan Merah (2015), Kota Para Ibu (2015) dan lainnya.

10.        Saya adalah tipe orang yang boleh dikatakan kerap gelisah akan sesuatu hal. Entah itu persoalan cinta, realita sosial, atau berbagai gejala kehidupan. Kegelisahan itu ternyata menemukan muaranya dalam menulis, yakni puisi.

11.         Seiring dengan perkembangan IPTEK, pendidikan di Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Sekolah-sekolah bertebaran di mana-mana. Hasil lulusannya telah menjelma menjadi ini dan itu. Namun, untuk mencapai puncak peradaban Indonesia yang sejahtera, perlu ada sinergitas antara berbagai stakeholder pendidikan. Saya berharap pendidikan di Indonesia, selain dapat menciptakan generasi yang mapan dalam bernalar, juga menumbuhkembangkan karakter yang luhur. Sehingga, manusia Indonesia menjadi manusia seutuhnya. Oleh karena itu, para guru mesti kembali bercermin pada falsafah Ki Hajar Dewantara: ing ngarso suntolodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

12.        Selain puisi saya juga menulis cerpen, esai, dan opini. Akan tetapi, jumlahnya tidak sebanyak puisi yang saya tulis. Harapan untuk menerbitkan buku selain kumpulan puisi, tentunya ada. Saya berharap suatu saat berkesempatan menerbitkan kumpulan cerpen atau novel, bahkan esai, dan buku-buku lainnya.

13.        Mengajak remaja untuk menghargai karya anak bangsa, khususnya karya sastra, tidak lain adalah dengan memupuk gairah membaca. Ketika membaca sudah menjadi budaya, maka otomatis karya-karya anak bangsa (sastra) tidak hanya sekadar singgah, tetapi lebih daripada itu, akan mendapat ruang di tengah kita. Memupuk aktivitas membaca ini tidak sebatas diujarkan tapi mulailah dari diri sendiri.




Catatan: 

  • Di atas adalah jawaban saya atas wawacara terstruktur yang dilakukan oleh  semester VI untuk tugas kelompok mata kuliah majalah sekolah.
  • Ada dua pertanyaan (susulan) mengenai pendidikan yang pada kesempatan ini jawabannya belum dapat ditampilkan.

No comments:

Post a Comment

Ruang Apresiasi