Mengembangkan Bakat Anak Tanpa Ambisi Orang Tua



BAKAT merupakan kemampuan atau potensi yang sudah ada atau dibawa sejak lahir oleh setiap individu. Seorang anak adalah individu yang unik dan memiliki bakat tertentu. Bakat yang dimiliki setiap anak tidak bisa dipaksakan agar sama seperti bakat yang dimiliki anak lainnya. Maka sudah menjadi kewajiban orangtua untuk mengenali bakat yang dimiliki anak sehingga nantinya mampu mengarahkan dan memberi dukungan positif bagi perkembangan bakat yang dimiliki anaknya.

Bicara tentang bakat anak, tidak bisa lepas dari bagaimana kita memahami dunia anak. Dunia anak adalah dunia yang dipenuhi keceriaan. Wajah mereka mencerminkan ketulusan, apa adanya. Mereka begitu ingin mengeksplorasi segala sesuatu yang dilihatnya, mencoba apa yang menarik hatinya, tanpa berpikir risiko yangakan dihadapi. Intinya, belum ada gambaran yang jelas tentang masa depan di benak mereka. Bahkan terpikirkan pun tidak oleh mereka. Di sinilah tugas penting dari orang arahkan bakat anak. Menggali dengan membekali pendidikan yang tepat dan sarana pengembangan diri yang sesuai potensi anak. Orangtua juga wajib menciptakan lingkungan yang kondusif dan konstruktif sehingga anak terkondisikan dengan baik dalam upaya pengembangan potensi terpendamnya. Bahkan, orangtua bisa menularkan kebiasaan positif yang dimiliki, baik berupa hobi atau pengalaman yang dapat memacu anak dalam mengaktualisasi dirinya.

Orangtua sudah sepatutnya merefleksikan dirinya, yaitu bijaksana dalam mengembangkan bakat anaknya. Bukan malah sebaliknya, orangtua memosisikan diri sebagai orang yang berperan mengatur kegiatan anak sesuai ambisinya, apalagi mencetak anak sebagai model untuk mencapai cita-cita orangtua semata. Sangat disayangkan bila sampai terjadi seperti ini. Orangtua yang bijak tentunya akan menawarkan opsi pada anaknya untuk memilih apa yang paling diminati. Bukan sekadar ikut-ikutan tren yang sedang berkembang. Sebab tren akan terus berubah dan anak akan terus tumbuh, kalau begitu akankah orangtua mengorbankan keceriaan anak?

Untuk itu, orangtua bisa memulai dari hal yang mendasar, yaitu memberi porsi komunikasi berkualitas setiap harinya sehingga orangtua lebih memahami anaknya. Memahami anak berarti secara tidak langsung orangtua akan mengetahui bakat anak, lalu tinggal bagaimana mengarahkan bakat yang dimiliki anak supaya menjadi jembatan masa depan menuju kesuksesan hidupnya.

(Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa Bali Post pada Senin, 16 Desember 2013)

*Saya dedikasikan tulisan di atas untuk seluruh teman-teman di Sasindo kelas III/B. Hari-hari serasa penuh warna bersama kalian. Sangat sayang bila apa yang sudah kita sampaikan di kelas berlalu begitu saja, jadi saya berupaya merangkum pembelajaran kita di mata kuliah Berbicara II dan syukur dimuat di media cetak (Bali Post), sekaligus menjadi tulisan non fiksi kedua saya yang dimuat di koran yang dari dulu ingin saya tembus melalui jalur puisi. Kurang lebihnya moga-moga bermanfaat.